Selasa, 10 April 2012

TITANIC TENGGELAM, MENJELANG 1 ABAD

titanic
(indonesiarayanews.com)

    Suatu implementasi dalam pengalaman/tragedi sering dikenang kembali dalam suatu ceremonial. Salah satu slogan yang perlu kita pahami adalah "JAS MERAH" oleh Bung Karno. Jangan sekali-sekali melupakan SEJARAH, pernyataan ini dimaksudkan agar setiap insan manusia memiliki apresiasi yang tinggi. Tragedi Titanic menggema dalam suasana satu abad terakhir. Berikut disampaikan apresiasi yang diterapkan terhadap apresiasi tersebut.   Pelayaran napak tilas dilakukan untuk memperingati seabad tenggelamnya kapal Titanic di Samudera Atlantik. Pelayaran ini diikuti oleh sejumlah sejarawan, pelaut, dan keluarga korban yang selamat.Napak tilas ini dilakukan dengan Kapal Balmoral. Kapal ini membawa ribuan penumpang yang merepresentasikan jumlah penumpang yang berada di atas Titanic saat tenggelam 100 tahun silam.Balmoral menelusuri jalur yang dilewati oleh Titanic, dari Southampton, Inggris, menuju New York, Amerika Serikat. Laman BBC melaporkan, Kapal Balmoral meninggalkan Southampton, Inggris, pada Minggu, 10 April 2012, menuju titik tenggelamnya Titanic. Suasana dibuat lebih nyata, kapal ini disulap semirip mungkin dengan Titanic. Bahkan disertai dengan berbagai perlengkapan dan atributnya. Tak hanya itu, menu makanan juga sama dengan yang dihidangkan di atas Titanic saat itu.Titanic tenggelam pada 15 April 1912 setelah menabrak es di Samudera Atlantik. Peristiwa itu dikenang sebagai tragedi maritim oleh masyarakat luas. Perjalanan memorial ini, dipersiapkan sebagai upacara penghormatan terhadap tenggelamnya Titanic.Mari kita maknai bersama, apresiasi tidak hanya sebagai penguat sejarah tetapi juga sebagai pengukir sejarah dalam hidup. Believe it or not, buktikanlah (^^pg) [April 2012].(informasi diambil dari vivanews.com)

Minggu, 08 April 2012

MEMPERKECIL GAYA GRAVITASI ANTARA KEGAGALAN DAN KEPUTUSASAAN MELALUI KECERDASAN EMOSI

Penulis: Putu Gede Asnawa Dikta
Mahasiswa Semester 2 Jurusan Pendidikan Fisika UNDIKSHA

Kehidupan manusia tidak akan pernah lepas dari proses alam (sains).  Salah satu contohnya adalah kelembaman. Hukum I Newton menjelaskan mengenai hukum kelembaman (inersia) yang tidak hanya berlaku pada gerak objek jasmaniah, tetapi juga pada ranah sosial rohaniah.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita patut melaksanakan hal yang serupa. Kecendrungan untuk berpikir positif ditujukan untuk hasil yang positif. Sesungguhnya, manusia merupakan buah pikiran dari pikirannya sendiri. Ini merupakan konsep yang sangat sederhana, namun masih langka penerapan realistiknya. Buktinya, banyak orang yang putus asa akibat kegagalannya.
Kegagalan merupakan tanjakan kecil yang harus kita lalui, hendaknya memacu kita untuk merefleksi dan memotivasi diri untuk hasil yang lebih baik. Namun, orang yang memiliki kecerdasan emosional rendah menganggap kegagalan sebagai keputusasaan. Akibatnya, cendrung merasa diri semakin kecil. Hal ini merupakan beban special terhadap pikiran. Solusi alternatifnya adalah besarkan hati, mantapkan tekad, dan lakukan perbaikan (action).
Keputusasaan dapat terjadi pada siapapun, baik golongan intelektual menengah ke atas maupun intelektual menengah ke bawah. Hal ini bergantung pada tingkat kecerdasan emosi yang dimilikinya. Pikiran memegang peran yang esensial dalam mengkoordinir hal tersebut.
Gelombang pikiran akan berinterferensi dengan gelombang lainya yang memiliki frekuensi yang sama. Pikiran yang telah bertemu pada vibrasi yang selaras dapat menggetarkan pikiran orang lain. Dengan kata lain, dapat tersalurnya rasa simpati dan empati.
Adanya pengembangan rasa simpati dan empati sesungguhnya melatih kecerdasan emosional. Sesuai dengan konsep Tattwamasi, berusaha merasakan apa yang orang lain rasakan. Secara tidak langsung, kita telah belajar memposisikan diri pada posisi orang lain.
Tatwamasi akan berimplikasi pada Tri Kaya Parisudha. Di dalam kegiatan saling memahami perasaan tersebut terdapat kesepahaman saling menghormati. Betapa indahnya dunia ini, jika setiap orang mampu mengembangkan pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik.
Sesungguhnya konsep di atas berimplikasi dalam seluruh sendi kehidupan. Tri Hita Karana sebagai realitanya. Adanya rasa persaudaraan yang tinggi antara umat manusia (pawongan) membuat alam (palemahan) semakin bersahabat. Selanjutnya, Tuhan (parhyangan) akan bahagia menyaksikan keindahan tersebut.
Ilmu Fisika mengenal konsep gaya gravitasi (gaya tarik menarik). Konsep ini menyatakan bahwa “semakin dekat jarak antara suatu benda dengan benda lainnya, gaya gravitasi yang dihasilkan akan semakin besar”. Dianalogikan keputusasaan dan kegagalan adalah benda-benda tersebut. Tempatkanlah keputusasaan pada jarak yang tak berhingga dengan kegagalan sehingga gaya gravitasi yang dihasilkan sangat kecil (hampir tidak ada).
Kecerdasan emosi hendaknya dilatih sejak dini. Alam dan keadaan lainnya merupakan media pembelajaran yang alamiah. Sebagai langkah awal, kita harus berpikir bahwa kegagalan tidak pernah berujung pada keputusasaan. Kegagalan merupakan ujian ke arah kesuksesan yang lebih baik. Syaratnya adalah komitmen pada usaha berkelanjutan.
Tekad tanpa tindakan akan lumpuh. Tekad dan tindakan tanpa disertai do`a akan buta. Jadi, suatu tindakan dengan tekad kuat berlandaskan do`a akan menuntun kita menuju kesuksesan. (^^pg) [April 2012]


Rabu, 04 April 2012

YADNYA DAN BUDAYA POSITIF MENUMBUHKAN KEPRIBADIAN YANG DAPAT MERUBAH LINGKUNGAN

Penulis: Putu Gede Asnawa Dikta
Mahasiswa Semester 2 Jurusan Pendidikan Fisika UNDIKSHA

Kehadiran bencana yang silih berganti seakan mengingatkan kita tentang suatu hal yang terlupa. Kita ketahui bersama bahwa Tuhan semakin menunjukkan kebesarannya. Ini terbukti dengan adanya bencana yang datang saling bertautan. Angin puting beliung, tanah longsor, hingga air bah menjadi saksi semua itu.
Sebelum dari semua itu, konflik-konflik intern antara warga desa juga melengkapi penderitaan kita. Dulunya kawan sekarang menjadi lawan. Sungguh menyedihkan, sangat disayangkan. Mengapa semua ini bisa terjadi?
Seberkas cahaya berusaha menghubungkan pemikiran antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Mencoba untuk mendobrak sejuta tanda tanya. Tuhan telah menunjukkan kebesarannya, mengingatkan kita tentang swadharma (kewajiban) menjadi manusia. Bencana yang datang silih berganti merupakan suatu ganjaran yang diberikan kepada kita semua. Kapan kita mau berbenah diri? Pertanyaan ini telah terjawab dari dulu melalui lagu Ebiet G. Ade “masih ada waktu”. Beberapa pepatah juga menegaskan serupa, antara lain: now or never, no pain no gain, never say u can`t dsb. Pernyataan tersebut memang benar adanya. Sekarang tergantung tekad dalam diri.
Suatu perubahan sudah pasti memilki konsekuensi suatu pengorbanan (yadnya). Pengorbanan tulus inilah yang nantinya mampu memberikan suatu jalan terang bagi kehidupan manusia. Implikasi positif akan datang dari segala penjuru, jika ketulusan dalam beryadnya telah terwujud maksimal.
Beryadnya membangun karakter bangsa merupakan suatu pengabdian yang sangat mulia. Pada dasarnya kegiatan ini telah diterapkan di setiap jenjang sekolah dan juga di perguruan tinggi. Sesuatu yang menjadi permasalahan adalah implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa hal yang dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat adalah sebagai berikut. Pertama, tokoh masyarakat memiliki peranan penting dalam karakter masyarakat yang dipimpinnya. Jadi, pemimpin dalam desa tersebut bertanggung jawab terhadap seluruh gerak langkah masyarakatnya. Kedua, generasi muda hendaknya meneladani sikap-sikap luhur yang telah dilaksanakan oleh orang tuanya. Contoh sederhananya adalah mesantian dan ngayah di pura. Bagi remaja putra diharapkan telah mampu menggantikan kegiatan orang tuanya (ayah) seperti: kegiatan mebat, ngayah di banjar dsb. Sementara itu, remaja putri diharapkan mampu mewarisi keterampilan majejaitan.
Terwujudnya segala sesuatu yang dimaksud di atas tidak terlepas dari peran aktif orang tua. Orang tua diharapkan meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan personal. Bimbingan ini akan selalu melekat dalam ingatan kaum remaja khususnya. Implikasinya diharapkan mampu membentuk generasi yang cinta damai. Selain itu, juga meminimalkan konflik-konflik yang terjadi.
Personality yang kuat akan terbentuk sehingga diaharapkan mampu mengubah lingkungan menjadi lebih baik. Semua kebaikan berawal dari pikiran yang baik. Mari bersama-sama berpikir positif untuk lingkungan yang positif. (^^pg) [Maret 2012]