Selasa, 10 April 2012
Minggu, 08 April 2012
MEMPERKECIL GAYA GRAVITASI ANTARA KEGAGALAN DAN KEPUTUSASAAN MELALUI KECERDASAN EMOSI
![]() |
| Penulis: Putu Gede Asnawa Dikta Mahasiswa Semester 2 Jurusan Pendidikan Fisika UNDIKSHA |
Kehidupan manusia tidak akan pernah lepas dari proses alam (sains). Salah satu contohnya adalah kelembaman. Hukum I Newton menjelaskan mengenai hukum kelembaman (inersia) yang tidak hanya berlaku pada gerak objek jasmaniah, tetapi juga pada ranah sosial rohaniah.
Dalam
kehidupan sehari-hari, kita patut melaksanakan hal yang serupa. Kecendrungan
untuk berpikir positif ditujukan untuk hasil yang positif. Sesungguhnya,
manusia merupakan buah pikiran dari pikirannya sendiri. Ini merupakan konsep
yang sangat sederhana, namun masih langka penerapan realistiknya. Buktinya,
banyak orang yang putus asa akibat kegagalannya.
Kegagalan
merupakan tanjakan kecil yang harus kita lalui, hendaknya memacu kita untuk
merefleksi dan memotivasi diri untuk hasil yang lebih baik. Namun, orang yang
memiliki kecerdasan emosional rendah menganggap kegagalan sebagai keputusasaan.
Akibatnya, cendrung merasa diri semakin kecil. Hal ini merupakan beban special terhadap pikiran. Solusi
alternatifnya adalah besarkan hati, mantapkan tekad, dan lakukan perbaikan (action).
Keputusasaan
dapat terjadi pada siapapun, baik golongan intelektual menengah ke atas maupun intelektual
menengah ke bawah. Hal ini bergantung pada tingkat kecerdasan emosi yang
dimilikinya. Pikiran memegang peran yang esensial dalam mengkoordinir hal
tersebut.
Gelombang
pikiran akan berinterferensi dengan gelombang lainya yang memiliki frekuensi
yang sama. Pikiran yang telah bertemu pada vibrasi yang selaras dapat
menggetarkan pikiran orang lain. Dengan kata lain, dapat tersalurnya rasa
simpati dan empati.
Adanya
pengembangan rasa simpati dan empati sesungguhnya melatih kecerdasan emosional.
Sesuai dengan konsep Tattwamasi,
berusaha merasakan apa yang orang lain rasakan. Secara tidak langsung, kita
telah belajar memposisikan diri pada posisi orang lain.
Tatwamasi akan berimplikasi pada Tri Kaya Parisudha. Di dalam kegiatan
saling memahami perasaan tersebut terdapat kesepahaman saling menghormati.
Betapa indahnya dunia ini, jika setiap orang mampu mengembangkan pikiran,
perkataan, dan perbuatan yang baik.
Sesungguhnya
konsep di atas berimplikasi dalam seluruh sendi kehidupan. Tri Hita Karana sebagai realitanya. Adanya rasa persaudaraan yang
tinggi antara umat manusia (pawongan)
membuat alam (palemahan) semakin
bersahabat. Selanjutnya, Tuhan (parhyangan) akan bahagia menyaksikan keindahan
tersebut.
Ilmu
Fisika mengenal konsep gaya gravitasi (gaya tarik menarik). Konsep ini
menyatakan bahwa “semakin dekat jarak antara suatu benda dengan benda lainnya,
gaya gravitasi yang dihasilkan akan semakin besar”. Dianalogikan keputusasaan
dan kegagalan adalah benda-benda tersebut. Tempatkanlah keputusasaan pada jarak
yang tak berhingga dengan kegagalan sehingga gaya gravitasi yang dihasilkan
sangat kecil (hampir tidak ada).
Kecerdasan
emosi hendaknya dilatih sejak dini. Alam dan keadaan lainnya merupakan media
pembelajaran yang alamiah. Sebagai langkah awal, kita harus berpikir bahwa
kegagalan tidak pernah berujung pada keputusasaan. Kegagalan merupakan ujian ke
arah kesuksesan yang lebih baik. Syaratnya adalah komitmen pada usaha
berkelanjutan.
Tekad
tanpa tindakan akan lumpuh. Tekad dan tindakan tanpa disertai do`a akan buta.
Jadi, suatu tindakan dengan tekad kuat berlandaskan do`a akan menuntun kita
menuju kesuksesan. (^^pg) [April 2012]
Rabu, 04 April 2012
YADNYA DAN BUDAYA POSITIF MENUMBUHKAN KEPRIBADIAN YANG DAPAT MERUBAH LINGKUNGAN
![]() |
| Penulis: Putu Gede Asnawa Dikta Mahasiswa Semester 2 Jurusan Pendidikan Fisika UNDIKSHA |
Kehadiran bencana yang silih berganti seakan mengingatkan kita tentang suatu hal yang terlupa. Kita ketahui bersama bahwa Tuhan semakin menunjukkan kebesarannya. Ini terbukti dengan adanya bencana yang datang saling bertautan. Angin puting beliung, tanah longsor, hingga air bah menjadi saksi semua itu.
Sebelum
dari semua itu, konflik-konflik intern
antara warga desa juga melengkapi penderitaan kita. Dulunya kawan sekarang
menjadi lawan. Sungguh menyedihkan, sangat disayangkan. Mengapa semua ini bisa
terjadi?
Seberkas
cahaya berusaha menghubungkan pemikiran antara satu peristiwa dengan peristiwa
lainnya. Mencoba untuk mendobrak sejuta tanda tanya. Tuhan telah menunjukkan
kebesarannya, mengingatkan kita tentang swadharma
(kewajiban) menjadi manusia. Bencana yang datang silih berganti merupakan
suatu ganjaran yang diberikan kepada kita semua. Kapan kita mau berbenah diri?
Pertanyaan ini telah terjawab dari dulu melalui lagu Ebiet G. Ade “masih ada
waktu”. Beberapa pepatah juga menegaskan serupa, antara lain: now or never, no pain no gain, never say u
can`t dsb. Pernyataan tersebut memang benar adanya. Sekarang tergantung
tekad dalam diri.
Suatu
perubahan sudah pasti memilki konsekuensi suatu pengorbanan (yadnya). Pengorbanan tulus inilah yang
nantinya mampu memberikan suatu jalan terang bagi kehidupan manusia. Implikasi
positif akan datang dari segala penjuru, jika ketulusan dalam beryadnya telah
terwujud maksimal.
Beryadnya membangun karakter bangsa
merupakan suatu pengabdian yang sangat mulia. Pada dasarnya kegiatan ini telah
diterapkan di setiap jenjang sekolah dan juga di perguruan tinggi. Sesuatu yang
menjadi permasalahan adalah implementasinya dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa hal yang dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat adalah sebagai
berikut. Pertama, tokoh masyarakat
memiliki peranan penting dalam karakter masyarakat yang dipimpinnya. Jadi,
pemimpin dalam desa tersebut bertanggung jawab terhadap seluruh gerak langkah
masyarakatnya. Kedua, generasi muda
hendaknya meneladani sikap-sikap luhur yang telah dilaksanakan oleh orang
tuanya. Contoh sederhananya adalah mesantian
dan ngayah di pura. Bagi remaja putra diharapkan telah mampu menggantikan
kegiatan orang tuanya (ayah) seperti: kegiatan mebat, ngayah di banjar dsb. Sementara itu, remaja putri diharapkan
mampu mewarisi keterampilan majejaitan.
Terwujudnya segala sesuatu yang dimaksud
di atas tidak terlepas dari peran aktif orang tua. Orang tua diharapkan
meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan personal. Bimbingan ini akan selalu
melekat dalam ingatan kaum remaja khususnya. Implikasinya diharapkan mampu
membentuk generasi yang cinta damai. Selain itu, juga meminimalkan
konflik-konflik yang terjadi.
Personality
yang kuat akan terbentuk sehingga diaharapkan mampu mengubah lingkungan
menjadi lebih baik. Semua kebaikan berawal dari pikiran yang baik. Mari
bersama-sama berpikir positif untuk lingkungan yang positif. (^^pg) [Maret 2012]
Langganan:
Postingan (Atom)


